Internet Addiction
Disusun Guna Memenuhi Tugas Mata Kuliah
Psikologi dan Teknologi Internet
Dosen : Kiki Septella Sari
Disusun oleh :
Ni Made Puspa Adnyani
15515031
2PA12
JURUSAN PSIKOLOGI FAKULTAS
PSIKOLOGI
UNIVERSITAS GUNADARMA
2016
A. Internet Addiction
Internet
addiction atau kecanduan internet adalah suatu gejala dimana seseorang sangat
ketergantungan terhadap internet dan tidak mau lepas dari pengaruh internet.
Kecanduan internet mempunyai gejala yang sama seperti kecanduan obat-obatan.
Kecanduan internet masih jadi perdebatan untuk masuk dalam gangguan kejiawaan
atau tidak. Para pasien yang mengalami kecanduan internet juga sering mengalami
kondisi kejiwaan lain seperti kurang perhatian gangguan hiperaktif, depresi,
kecemasan, rendah kepercayaan diri, impulsif, tak tahu malu, dan cenderung mau
bunuh diri.
Tanda-tanda
orang kecanduan internet yaitu :
Kimberley Young menyebutkan beberapa gejala utama kecanduan
berinternet :
berinternet :
1. Pikiran
pecandu internet terus-menerus tertuju pada aktivitas berinternet dan sulit
untuk dibelokkan ke arah lain.
2.
Adanya kecenderungan penggunaan waktu berinternet yang terus bertambah demi
meraih tingkat kepuasan yang sama dengan yang pernah dirasakan sebelumnya.
3.Yang bersangkutan secara berulang gagal untuk mengontrol atau menghentikan
penggunaan internet.
4. Adanya
perasaan tidak nyaman, murung, atau cepat tersinggung ketika yang bersangkutan
berusaha menghentikan penggunaan internet.
5. Adanya
kecenderungan untuk tetap on-line melebihi dari waktu yang ditargetkan.
6. Penggunaan
internet itu telah membawa risiko hilangnya relasi yang berarti, pekerjaan,
kesempatan studi, dan karier.
7. Penggunaan
internet menyebabkan pengguna membohongi keluarga, terapis dan orang lain untuk
menyembunyikan keterlibatannya yang berlebihan dengan internet.
8. Internet
digunakan untuk melarikan diri dari masalah atau untuk meredakan perasaan-perasaan negatif seperti rasa bersalah, kecemasan, depresi, dan
sebagainya.
B.
Faktor etiologi kecanduan internet
1.
Cognitive-behavioral Model: Kecanduan teknologi sebagai bagian dari
kecanduan perilaku: kecanduan internet menampilkan komponen inti dari kecanduan
(kedudukan kentara, mood modifikasi, toleransi, penarikan, konflik dan kambuh).
Dari perspektif ini, pecandu internet ditampilkan arti-penting kegiatan, sering
mengalami keinginan dan perasaan disibukkan dengan internet saat offline. Ia
juga menunjukkan bahwa menggunakan internet sebagai cara untuk menghindari
perasaan mengganggu, mengembangkan toleransi internet untuk mencapai kepuasan,
mengalami penarikan, kapan mengurangi penggunaan intenet, penderitaan saat
meningkatnya konflik dengan orang lain karena aktivitas, dan kambuh kembali ke
internet juga tanda-tanda kecanduan. Model ini telah diterapkan pada perilaku
seks tersebut, berjalan, konsumsi makanan, dan perjudian.
2.
Neuropsychological Model: Seorang individu akan diklasifikasikan sebagai
pecandu internet asalkan ia memenuhi siapa pun dari tiga kondisi berikut: (1)
salah satu akan merasa bahwa lebih mudah untuk mencapai aktualisasi diri secara
online daripada di kehidupan nyata, (2) salah satu akan pengalaman dysphoria
dan depresi setiap kali akses ke internet rusak atau kusut berfungsi, (3) orang
akan mencoba untuk menyembunyikan waktu penggunaan yang benar nya dari anggota
keluarga.
3.
Situational Factors: Faktor situasional berperan dalam pengembangan
kecanduan internet. individu yang merasa kewalahan atau yang mengalami masalah
pribadi atau yang experince mengubah hidup acara seperti divorve arecent,
relokasi, atau kematian dapat menyerap diri dalam dunia maya yang penuh fantasi
dan intrik
C. Jenis-jenis internet
addiction
Berikut
ini adalah sub-sub tipe dari internet addiction menurut Kimberly S. Young, et.
al. (2006):
a.
Cybersexual Addiction,
Termasuk
ke dalam cybersexual addiction antara lain adalah individu yang secara
kompulsif mengunjungi website-website khusus orang dewasa, melihat hal-hal yang
berkaitan dengan seksualitas yang tersaji secara eksplisit, dan terlibat dalam
pengunduhan dan distribusi gambar-gambar dan file-file khusus orang dewasa.
b.
Cyber-Relationship Addiction
Cyber-relationship
addiction mengacu pada individu yang senang mencari teman atau relasi secara
online. Individu tersebut menjadi kecanduan untuk ikut dalam layanan chat room
dan seringkali menjadi terlalu-terlibat dalam hubungan pertemanan online atau
terikat dalam perselingkuhan virtual.
c.
Net compulsions
Yang
termasuk dalam sub tipe net compulsions misalnya perjudian online, belanja
online, dan perdagangan online.
d.
Information Overload
Information
overload mengacu pada web surfing yang bersifat kompulsif.
e.
Computer Addiction
Salah
satu bentuk dari computer addiction adalah bermain game komputer yang bersifat
obsesif.
D. Contoh kasus:
Jakarta
Akses internet berdampak petaka. Pasangan muda membiarkan anaknya kelaparan,
saat sibuk membesarkan anak virtual. Seorang ibu tewas karena mengusik anaknya
bermain game.
Seorang anak lelaki siang dan malam diam di depan komputer dan membunuh
naga di dunia fantasi onlinenya. Bocah kecanduan internet itu melupakan makan
malam yang tidak disentuhnya.
Lee Mi-hwa mengatakan anaknya yang berusia 15 tahun bertengkar dengan
ibunya yang berusaha menghentikan kegiatan online itu. Namun sang anak berani
memukul dan menyebabkan lebam.
Bocah itu termasuk satu dari dua juta orang yang diklasifikasikan oleh
pemerintah Korea Selatan sebagai pecandu internet. Negara dengan jumlah
penduduk 49 juta itu diperkirakan sebagai salah satu negara paling terikat
teknologi di dunia.
Beberapa di antaranya mengalami peningkatan aksi kekerasan. Bulan lalu,
pasangan muda membiarkan anak 3 bulannya kelaparan, sementara mereka
membesarkan anak virtual di game online, menghabiskan sebagian besar harinya di
kafe internet daripada mengasuh anak yang baru dilahirkan.
Bayi tersebut layaknya mumi karena dia tidak diberi makanan untuk sekian
lama, menurut seorang petugas kepolisian yang menginvestigasi kasus tersebut.
Pada Februari, seorang anak berusia 22 tahun memukul ibunya dengan gada
hingga meninggal karena mengusik dirinya yang tengah bermain game internet.
Setelah pembunuhan, dia melanjutkan permainan onlinenya berjam-jam dan membayar
dengan kartu kredit ibunya.
Insiden semacam itu telah memberikan peringatan kepada negara, untuk
melawan kecanduan internet. Pemerintahnya mengumumkan bahwa mereka akan
mengambil aksi melarang akses ke game online populer, dan mengirimkan penasehat
ke sekolah dasar untuk mendidik anak-anak tentang penggunaan internet sehat.
Sedikit ironis bahwa apa yang diciptakan untuk membuat hidup lebih baik
justru membuat lebih buruk, ujar Park Hye-kyung, Direktur I Will Center, pusat
konseling pemerintah yang didirikan Desember tahun lalu untuk fokus dalam
pertumbuhan isu kecanduan internet.
Kecanduan internet tidak dikenali dalam kondisi medis atau penyimpangan
psikologis. Tapi seringkali memicu gejala penyimpangan mental serius seperti
penyakit kekurangan perhatian dan depresi. Demikian Dr Kim Tae-hoon, psikiater
yang merawat anak-anak.
Kim mengatakan bahwa internet terlalu berlimpah di Korea Selatan. Lebih
dari 90% rumah memiliki akses nirkabel, seperti diungkapkan Organization for
Economic Cooperation and Development. Sebagai tambahan untuk menyebarluaskan
akses, kafe internet yang dikenal dengan PC rooms dibuka 24 jam di seluruh belahan
negara.
Di Korea Selatan lebih mudah bagi penduduk untuk memainkan game online
daripada menginvestasikan hubungan personal offline melalui pembicaraan tatap
muka, tambahnya.
Orang menjadi semakin mati rasa dalam berinteraksi dengan sesama
manusia. Tiga dari 10 orang dewasa dan 26% remaja adalah pecandu game, menurut
Eo Gee-jun, Presiden Korea Computer Life Institute. Anak-anak mulai memainkan
game internet ketika mereka masuk ke kelas empat atau lima , ujar Eo. Mereka
semakin lengket ketika bertambah dewasa.
Kementerian Kebudayaan mengumumkan proyek gabungan dengan perusahaan
utama game Korea Selatan pada awal bulan untuk mengimplementasikan penutupan di
akhir malam untuk game internet yang populer di antara pengguna muda. Akses
kepada tiga game akan diblok dari tengah malam hingga pukul 08.00 kepada
pengguna dengan usia di bawah 18 tahun.
Kementerian meminta pada pengembang game untuk mengawasi pengguna dengan
menggunakan nomor ID nasional yang termasuk usia. Orang tua juga bisa mengecek
apakah anak mereka menggunakan ID orang lain.
Mulai tahun depan, pemain game akan bisa menginstal program gratis ke
dalam komputer yang membatasi akses ke internet, berdasarkan keterangan
pemerintah bulan lalu.
Kebijakan pemerintah penting tetapi juga krusial bagi publik ikut serta
menangani, ujar Lee Young-ah, seorang petugas di Kementerian Kebudayaan,
Olahraga dan Turisme. Kami ingin memberi peringatan pada sebanyak mungkin orang
tentang keseriusan kecanduan internet sehingga tiap individu bisa mengontol
diri sendiri.
Nexon, perusahaan game besar di Korea Selatan mengatakan bahwa jam malam
merupakan langkah pertama dalam perang melawan kecanduan online. Kami ingin
menciptakan budaya sehat menikmati game dan tidak menderita penyakit, ujar Juru
Bicara Nexon Lee Young-ho.
Pemerintah telah mengeluarkan 10 miliar won atau Rp 87,3 miliar untuk
mendidik publik tentang bahaya kecanduan online dan mendanai pusat konsultasi
bagi individu yang terobsesi.
Sumber :






Tidak ada komentar:
Posting Komentar