PSIKOLOGI DAN INTERNET DALAM
LINGKUP INTRAPERSONAL
Disusun
Guna Memenuhi Tugas Mata Kuliah Psikologi dan Teknologi Internet
Dosen
: Kiki Septella Sari
Disusun
oleh :
Ni
Made Puspa Adnyani
15515031
2PA12
JURUSAN PSIKOLOGI FAKULTAS PSIKOLOGI
UNIVERSITAS GUNADARMA
2016
A. Aspek Psikologis dari Individu Pengguna Internet
Banyak sekali terjadinya fenemona identitas diri melalui internet secara
identitas nyata maupun identitas virtual yang memungkinkan individu mengubah
sama sekali identitas nyatanya ke sebuah identitas lain yang sifatnya virtual
dan karakteristik seseorang indvidu.
Saat ini banyak sekali jejaring sosial yang bermuculan, seperti Facebook,
Twitter, Path, Instagram dan lain-lain. Banyak orang yang mengunakan identitas palsu atau bisa
disebut anonim untuk mendaftrakan diri / menjadi penguna aktif dari salah satu
jaringan sosial. Antara lain faktor-faktor yang membuat seseorang mengunakan
identitas palsu adalah untuk menutup jejak didunia maya, dan menjaga repotasi
harga diri. Dimana seseorang ingin meluapkan emosinya didunia maya, tanpa
diketahui oleh orang lain siapa dia sebenarnya.
Karakteristik seseorang akan telihat berbeda, ketika dia berada didunia
nyata dengan saat dia berada di jejaring sosial. Saat didunia nyata mungkin
dilihat karakternya sangat pendiam dan tidak mudah bergaul atau tidak asik
untuk diajak berbicara, namun lain halnya saat didunia maya. Karakter dia
menjadi anak yang mudah bergaul dan asik untuk diajak bebicara.
Dalam jurnal ini paparkan oleh Vivi Sahfitri bahwa : Berdasarkan hasil
pembahasan dan analisa yang telah dilakukan serta sesuai dengan maksud dan
tujuan penelitian, maka diambil kesimpulan sebagai berikut :
1. Berdasarkan uji korelasi dan
regresi diperoleh fakta bahwa secara parsial tidak ada hubungan atau pengaruh
yang signifikan antara Variabel pemanfaatan e-learning terhadap Prestasi belajar mahasiswa. Pada Kondisi ini
dapat dijelaskan secara sendiri-sendiri atau parsial tidak terdapat pengaruh
pemanfaatan e-learning terhadap prestasi belajar Mahasiswa.
2. Pengaruh secara parsial dari
variabel pemanfaatan e-learning dengan
kemampuan pemahaman mahasiswa berdasarkan uji yang telah dilakukan
menunjukkan adanya pengaruh yang signifikan. Pada Kondisi ini dapat dijelaskan
secara sendiri-sendiri atau parsial terdapat pengaruh pemanfaatan
e-learning terhadap kemampuan pemahaman
mahasiswa.
3. Hasil pengujian regresi yang
dilakukan secara bersama-sama atau uji serentak di peroleh hasil bahwa Pengaruh
secara bersama dari variabel pemanfaatan e-learning dengan Prestasi
belajar mahasiswa dan kemampuan pemahaman Mahasiswa menunjukkan pengaruh
yang signifikan dan positif.
Dalam Jurnal Perilaku Penggunaan Internet pada Kalangan Remaja di
Perkotaan
Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh Astutik Nur Qomariyah,
mengenai perilaku penggunaan internet pada kalangan remaja di perkotaan dengan
berdasarkan pertanyaan penelitian yang telah diajukan, maka peneliti dapat
menyimpulkan tiga hasil temuan penelitian. Yaitu :
Pertama, usia responden saat pertama kali mengenal dan menggunakan
internet ialah 12 tahun. Rata-rata saat itu mereka telah memasuki kelas VII
SMP, dimana tugas-tugas sekolah yang diberikan mulai mengharuskan mereka
mencari sumber atau bahan-bahannya di internet sehingga mereka dituntut harus
bisa menggunakan internet.
Sebagian besar remaja perkotaan dalam penelitian ini mengungkapkan bahwa
teman sebaya (peer groups) dijadikan sebagai sumber belajar pertama kali
berinternet bagi mereka, baik untuk bisa melakukan aktivitas-aktivitas intenet
tertentu yang lebih bersifat kesenangan (seperti: chatting, bermain game
online, membuat account di salah satu situs social networking atau bahkan
mengunjungi situs-situs pornografi) maupun membantu mereka untuk kepentingan
akademis yakni mencari bahan atau sumber untuk menyelesaikan tugas sekolah.
Berdasarkan aspek intensitas penggunaan internet, sebagian besar remaja
perkotaan lebih sering mengakses internet di warnet meskipun di sekolah mereka
terdapat fasilitas internet yang dapat dimanfaatkan secara free (baik di
laboratorium komputer atau perpustakaan sekolah). Frekuensi internet yang
digunakan bagi remaja perkotaan yang sering mengakses internet di rumah
cenderung lebih sering dengan durasi setiap kali mengakses internet lebih lama
dibandingkan dengan remaja perkotaan yang sering mengakses internet di tempat
lainnya, seperti: warnet, sekolah atau wifi area.
Dari jumlah waktu penggunaan internet per bulan menunjukkan bahwa pada
umumnya kalangan remaja di perkotaan yang sering mengakses internet di rumah
termasuk dalam kategori heavy users (pengguna internet yang menghabiskan waktu
lebih dari 40 jam per bulan). Sedangkan remaja di perkotaan yang sering
mengakses internet di warnet dan memanfaatkan wifi area publik sebagai tempat
akses internet mereka dikategorikan sebagai medium users (pengguna internet
yang menghabiskan waktu antara 10 sampai 40 jam per bulan). Sementara itu, bagi
remaja di perkotaan yang sering mengakses internet dengan memanfaatkan layanan
internet yang tersedia di sekolah menunjukkan bahwa pada umumnya mereka
tergolong sebagai light users(pengguna internet yang menghabiskan waktu kurang
dari 10 jam per bulan).
Kalangan remaja di perkotaan menggunakan internet untuk untuk empat
dimensi kepentingan, yaitu informasi(information utility), aktivitas kesenangan
(leisure/fun activities), komunikasi (communication), dan
transaksi(transactions).
B. Aspek Demografis dari Individu Pengguna Internet
Aspek demografis adalah aspek yang harus mempertimbangkan gender, usia,
budaya, dan SES (social-economic-status) dalam interaksi individu dan internet.
Pengaruh Gender
Gender dalam sosiologi mengacu pada sekumpulan ciri-ciri khas yang
dikaitkan dengan jenis kelamin individu (seseorang) dan diarahkan pada peran
sosial atau identitasnya dalam masyarakat. WHO memberi batasan gender sebagai
“seperangkat peran, perilaku, kegiatan, dan atribut yang dianggap layak bagi
laki-laki dan perempuan, yang dikonstruksi secara sosial, dalam suatu
masyarakat. Pengaruh gender di internet pada umumnya wanita yang sering bermain
dengan internet, misalnya facebook, twitter dan lain-lain. Wanita selalu
memposting lebih banyak daripada pria, karena wanita terlalu sensitive pada apa
yang sedang terjadi dan sangat emosional.
Pada pria lebih cenderung ke forum atau game online. Pria juga senang
berjam-jam untuk melakukan hal itu. Internet juga bisa membuat para pria
terpengaruh oleh fashion jaman sekarang. Contohnya dari Korea, bisa saja mereka
membuat para pria mengenakan fashion itu, tetapi dari sudut pandang wanita
fashion itu tidak cocok untuk mereka yang pria jantan, contohnya dari gaya
rambut. Jaman sekarang para pria banyak yang mengikuti gaya rambut dari negara
luar, padahal gaya rambut itu membuat mereka terlihat seperti wanita. Semakin
berkembangnya internet dan globalisasi membuat banyak yang pria seakan-akan menjadi
wanita dan wanita seperti pria.
Pengaruh Usia
Internet juga membawa pengaruh yang signifikan bagi semua kalangan. Oleh
karena itu, tidak hanya orang dewasa saja yang sudah mengenal internet tapi
anak-anak juga, bahkan mereka sudah bisa menggunakannya secara langsung.
Sebenarnya internet memberikan fungsi secara berlawanan, khususnya bagi
anak-anak karena di satu sisi internet memberikan dampak positif namun di sisi
lain terdapat dampak negatifnya.
Jika dilihat dari sisi positif,dunia internet sangat berarti bagi
anak-anak karena dengan internet anak bisa mencari ilmu pengetahuan atau
informasi apa saja dari situs-situs yang dikunjunginya tanpa ada batasan jarak
dan waktu. Selain itu manfaat lain dari internet adalah anak-anak bisa berlatih
surat-menyurat dalam bentuk email, saling berbincang atau berkomunikasi dengan
yang lainnya dan bisa menambah teman dari berbagai belahan dunia, juga dapat
dimanfaatkan untuk meningkatkan semangat belajar pada anak misalnya dengan
memanfaatkan software yang menarik agar minat belajar anak tersebut menjadi
tergugah.
Disamping lain internet juga terdapat sisi negatifnya. Kebanyakan dari
anak-anak memiliki rasa ingin tahu dan penasaran yang sangat besar terhadap apa
yang baru mereka kenal atau temui. Bisa saja tanpa sengaja seorang anak membuka
sebuah situs orang dewasa yang tidak layak mereka lihat. tentunya itu dapat
berakibat buruk pada anak tersebut dan mungkin mempengaruhi perkembangannya.
Selain itu dampak negatif lain adalah, anak bisa kecanduan internet atau game
online yang akan membuat anak tersebut menjadi malas dan tidak mengenal waktu.
Jadi seharusnya anak-anak diberikan pengawasan dari orang tua dalam menggunakan
internet, sehingga anak dapat diarahkan ke-hal yang lebih positif dan dapat
terhindar dari dampak negatif.
Pemanfaatan Internet tentu harus di sesuaikan dengan tingkat usia anak.
Usia anak SD rata-rata berkisar antara 7-13 tahun. Dan tingkatan itu semua
memiliki cara penanganan yang berbeda. Berikut tahap pengenalan Internet pada
anak sesuai tingkat usianya.
USIA 4 S/D 7 TAHUN
Anak mulai tertarik untuk melakukan eksplorasi sendiri. Meskipun
demikian, peran orang tua masih sangat penting untuk mendampingi ketika anak
menggunakan Internet. Dalam usia ini, orang tua harus mempertimbangkan untuk
memberikan batasan-batasan situs yang boleh dikunjungi, berdasarkan pengamatan
orang tua sebelumnya. Untuk mempermudah hal tersebut, maka orang tua bisa
menyarankan kepada anaknya untuk menjadikan sebuah direktori atau search engine
khusus anak-anak.
USIA 7 S/D 10 TAHUN
Dalam masa ini, anak mulai mencari informasi dan kehidupan sosial di luar
keluarga mereka. Inilah saatnya dimana faktor pertemanan dan kelompok bermain
memiliki pengaruh yang signifikan terhadap kehidupan seorang anak. ada masa ini,
fokus orang tua bukanlah pada apa yang dikerjakannya di Internet, tetapi berapa
lama dia menggunakan Internet.
USIA 10 S/D 12 TAHUN
Pada masa pra-remaja ini, anak yang membutuhkan lebih banyak pengalaman
dan kebebasan. Inilah saat yang tepat untuk mengenalkan fungsi Internet untuk
membantu tugas sekolah ataupun menemukan hal-hal yang berkaitan dengan hobi
mereka. Pada usia ini, sangatlah penting untuk menekankan konsep kredibilitas.
Anak-anak perlu memahami bahwa tidak semua yang dilihatnya di Internet adalah
benar dan bermanfaat, sebagaimana belum tentu apa yang disarankan oleh
teman-temannya memiliki nilai positif.
USIA 12 S/D 14 TAHUN
Inilah saat anak-anak mulai aktif menjalani kehidupan sosialnya. Bagi
yang menggunakan Internet, kebanyakan dari mereka akan tertarik dengan online
chat (chatting). Masa ini merupakan masa yang tepat bagi kebanyakan orang tua
untuk bercerita dan berbagi informasi tentang hal-hal seksual kepada anaknya.
Tetapi di sisi lain, pemasangan software filter secara diam-diam ataupun tanpa
persetujuan sang anak, bisa berdampak pada timbulnya resistansi sang anak
kepada orang tua.
USIA 14 S/D 17 TAHUN
Masa ini adalah masa yang paling menarik dan menantang dalam kehidupan
seorang anak remaja dan orangtua. Seorang remaja akan mulai matang secara
fisik, emosi dan intelektual. Mereka haus akan pengalaman yang terbebas dari
orangtua. Ikatan-ikatan dengan keluarga tidak terlalu diperketat lagi, tetapi
tetap tidak menghilangkan peranan pengawasan orangtua.
Pengaruh Budaya
Munculnya teknologi sebagai tuhan baru bagi para manusia komputeris akan
membuat hilangnya budaya primordial yang menganggap kesakralan berada di tangan
alam dan manusia itu sendiri. Tidak hanya itu, kondisi ‘autis’ para manusia
komputeris ini juga membuat mereka tidak lagi peka terhadap kejadian sosial
yang menimpa masyarakat lain.
Sebagai contoh, di satu pihak, mereka menonton acara yang isinya
memberitakan korban bencana alam di kota A. Akan tetapi, setelah beberapa menit
kemudian, mereka menonton acara lain yang berisi tentang informasi fashion dan
gaya hidup masa kini. Kehadiran dua berita yang bertolak belakang tersebut
memungkinkan untuk penonton membawa hanya sedikit pesan dari yang pertama
dilihatnya. Akibatnya, dalam waktu beberapa detik, kejadian bencana alam yang
terjadi di kota A tersebut dapat segera dilupakan berkat interaksi manusia dan
komputer yang berlangsung sangat cepat tersebut.
Sumber :

Tidak ada komentar:
Posting Komentar